Rabu, 27 Januari 2010

sejuta kisah di pasar keputran

Selasa siang (20/10), sekitar pukul 16.00 WIB. Pasar Keputran Surabaya sudah menunjukkan geliatnya. Terutama pedagang yang berada di samping jalan Sonokembang dan jalan irian barat sudah memadati sisi jalan.

minggir - minggir sebuah becak dengan muatan penuh dengan saayur-sayuran yang siap di jual dengan harga bersaing

hari mulai senja para pedagang mulai terlihat sibuk menata sayuran dan melayani pelanggan dipinggir jalan yang mulai memacetkan jalan

pancaran warna - warni lampu 10 watt mulai menerangi setiap stand pedagang sayur di dalam dan di luar pasar keputran melangkah semakin dalam semakin tercium bau busuknya. Onggokan sampah tampak dimana-mana. Di jalan masuk pasar, pojok stan-stan pedagang, terlihat seorang ibu duduk menanti pelanggan di depan stan berukuran 2x3 m.

pasar keputran merupakan pasar malam yang terbesar di surabaya ribuan orang mengantungkan nasibnya untuk bertahan hidup dengan berjualan sayur mayur di pasar tersebut, salah satunya bu Yuni (56) yang sudah berjualan sejak tahun 2000 silam

selama sembilan tahun bu Yuni dan suaminya Burhan berjualan untuk menghidupi keluarga kecil mereka," dalam setiap hari saya sama bapak gantian jualannya sayur yang masik tersisa harus dijual lagi di pasar kecil di sekitar rumah di jalan kampung malang tengah" ucap sembari menata sayur

dengan jaket tebal yang menyelimuti tubuhnya dan di temani secangkir kopi ibu yuni dengan mukah yang sedikit senduh menceritakan tentang kehidupannya hasil jerih payahnya selama ini untuk bisa menyesekolahkan kedua putrinya Ani ......duduk di kelas 3 SMP dan Ayu masih duduk di bangku SD agar hidupnnya tidak seperti orang tuanya

Yuni adalah salah seorang dari ribuan pedagang pasar keputran. Keinginan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecilnya begitu kuat, membuatnya rela berjualan sayur dimalam hari dimana semua orang sedang menikmati mimpih indahnya

genangan

Bila musim penghujan tiba, ruas jalan di kawasan kartini, Surabaya selalu tergenang air. Genangan ini sangat menganggu para pengguna jalan.

Seperti pemandangan pada, Rabu (11/1/2010) sore, sesaat setelah Kota Pahlawan diguyur hujan yang cukup deras. Hujan yang hanya berlangsung sekitar 1 jam itu seperti biasa meninggalkan genangan.

Saat melewati genangan itu, pengguna jalan tampak memperlambat laju kendaraannya. Pengendara sepeda motor yang mogok banyak yang berdiri berjajar di tempat yang lebih tinggi dan bebas genangan air. Kendaraan roda dua itu banyak yang keok dengan genangan setinggi lutut pria dewasa ini.

Pengamatan dari reporter akbar insani genangan air yang menenggelamkan jalan di kawasan kartini di karenakan tinggi jalan tidak sama dan gorong-gorong di kawasan tersebut yang kurang memadai sehingga menenggelmkan jalan.

Petuga kepolisian pun langsung mengambil alih lalu lintas yang semrawut tersebut. Polisi menggantikan fungsi lampu merah dan mengatur lalu lintas untuk menghindari kemacetan yang lebih parah.


benteng pertahanan bahasa dan budaya jawa

Setelah melangkahkan kaki masuk dalam ruang kaca seakan terbawa pada pada era tahun perjuangan dimana dendangan lagu lawas, tulisan jawa terpajang di salah satu ruang redaksi, dan tak kalah menariknya cetakan pertama sebagai bentuk kebanggaan di pajang di salah satu sudut ruangan kantor penyebar semangat di jalan bubutan Surabaya.
Penyebar majalah yang terlahir 2 September 1933. Oplahnya masih membubung sekalipun usianya sudah 77 tahun. Di antara 30.000 eksemplar setiap minggunya, selain di Indonesia penyebar semangat juga dikirim ke Suriname hingga dibaca di Negeri Belanda. Inilah satu-satunya media massa tertua di Indonesia yang masih bisa dinikmati. menjadi koleksi sejumlah museum pers di negeri manca.
“Dalam sejarahnya, inilah majalah agitasi dan pembakar semangat rakyat untuk melawan penjajah namun sekarang jamanya sudah berbedah dimana penyebar semangat memiliki misi untuk mempertahankan budaya dan bahasa jawa ,” Winyono harjo (65) staf redaksi dengan semangat yang dimiliki seakan menghilangan kerut di wajahnya, beberapa waktu lalu kepada saya.
Kurangnya dukungan dari pemerintah daerah tidak menciutkan pada jajaran redaksi Penjebar Semangat. Salah satu penyebabnya, adalah masih adanya modal usaha yang berhasil dikumpulkan di masa majalah itu masih jaya. Seperti aset mesin cetak dan gedung perkantoran di lokasi pusat kota Surabaya yang dimiliki majalah itu. "Sekarang, kami berpikir bagaimana redaksi menjaga eksistensi majalah ini dengan tetap terbit," kata Winyono harjo
Untuk mempertahankan suatu budaya dan bahasa jawa di jaman globalisasi seperti ini tidaklah mudah tidak cukup dengan satu media saja dimana kita harus merasa memiliki budaya kita sendiri dengan menggunakan setiap hari dan tetap memperkenalkan pada generasi mudah.